Yogyakarta Pacu Pariwisata Kampung Lewat Kolaborasi UMKM dan Industri Kreatif
- Administrator
- Kamis, 28 Mei 2026 05:59
- 8 Lihat
- Sorotan
Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat kolaborasi antara sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pelaku UMKM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat. Langkah ini dinilai penting karena sektor wisata masih menjadi motor utama perputaran ekonomi di Kota Pelajar tersebut. Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, menyebut sinergi lintas sektor menjadi kunci agar dampak ekonomi pariwisata bisa dirasakan hingga tingkat kampung wisata.
Salah satu program yang dijalankan adalah “1 Village 1 Sister Corporate”, sebuah skema kerja sama antara pemerintah, industri perhotelan, dan pelaku UMKM lokal. Program ini dirancang untuk memperkuat ekosistem wisata berbasis ekonomi lokal sekaligus membuka peluang promosi bagi produk dan potensi kampung wisata di Yogyakarta.
Berdasarkan data hingga akhir 2025, kontribusi sektor perhotelan terhadap pendapatan asli daerah melalui pajak barang dan jasa tertentu (PBJT) mencapai 21,04 persen. Sementara sektor makanan dan minuman menyumbang 11,76 persen, jasa kesenian dan hiburan 1,30 persen, serta retribusi wisata sebesar 1,26 persen. Angka tersebut menunjukkan sektor pariwisata masih memiliki pengaruh besar terhadap pendapatan daerah.
Pemerintah Kota Yogyakarta pun mendorong seluruh pelaku usaha jasa wisata dan UMKM agar saling terhubung untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal. Fokus pengembangannya diarahkan hingga ke kampung wisata, sehingga manfaat industri pariwisata tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, tetapi juga menyentuh masyarakat secara langsung.
Saat ini, Kota Yogyakarta memiliki 46 kampung wisata dan 45 kelompok sadar wisata yang dinilai strategis dalam pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Berbagai kegiatan kolaboratif telah dijalankan, termasuk menerima kunjungan kerja DPRD dari berbagai daerah ke sejumlah kampung wisata sebagai bagian dari promosi sekaligus penguatan ekonomi masyarakat.
Program tersebut terbukti memberi dampak nyata terhadap transaksi UMKM lokal. Di Kampung Wisata Mantrijeron, misalnya, transaksi UMKM mampu mencapai Rp11,7 juta hanya dalam waktu dua jam. Sementara Kampung Wisata Sosromenduran mencatat transaksi sekitar Rp8 juta, Kampung Wisata Purbayan Rp8,5 juta, dan Kampung Wisata Rejowinangun sekitar Rp7,8 juta.
Pemerintah Kota Yogyakarta menilai aktivitas semacam ini bukan hanya menjadi sarana promosi gratis bagi kampung wisata, tetapi juga efektif menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Dengan semakin kuatnya sinergi antara pariwisata dan ekonomi kreatif, Yogyakarta berharap dapat mempertahankan posisinya sebagai destinasi wisata yang tumbuh bersama masyarakat lokal.
Foto: via Warta Jogjakarta.